Jakarta, CMNexus — Survei terbaru Kaspersky mencatat 92 persen perusahaan kecil dan menengah di Indonesia mengalami setidaknya satu insiden keamanan siber dalam 12 bulan terakhir. Angka itu membuat Indonesia menjadi negara ketiga dengan tingkat insiden tertinggi di Asia Pasifik, setelah Vietnam (97 persen) dan Malaysia (95 persen), serta di atas India (87 persen). Survei yang sama menemukan rata-rata global sebesar 86 persen, sementara Thailand dan Tiongkok melaporkan angka di bawah rata-rata kawasan, masing-masing 82 persen dan 67 persen (Periskop.id, 14 September 2026; VOI, 18 September 2026).
Survei dilakukan Pusat Penelitian Internal Kaspersky terhadap 1.800 pengambil keputusan serta spesialis TI dan keamanan siber di 18 negara, termasuk Indonesia. Dalam survei ini, Kaspersky menggunakan definisi small and medium-sized business (SMB) untuk perusahaan dengan jumlah karyawan kurang di bawah 500 orang (Periskop.id).
Bagi pemilik usaha, angka-angka itu bukan sekadar statistik industri. Insiden siber pada skala kecil biasanya berujung pada tiga hal yang sangat praktis: transaksi tidak bisa diproses, data pelanggan bocor, dan waktu kerja habis untuk memulihkan sistem — bukan untuk melayani pembeli.
Hanya 13 persen yang lolos
Temuan yang paling perlu digarisbawahi: di kawasan Asia Pasifik, hanya 13 persen perusahaan berstaf di bawah 500 karyawan yang berhasil terhindar dari insiden siber selama setahun terakhir (Medcom.id, 16 September 2026). Artinya, mayoritas bisnis kecil di kawasan ini sudah pernah mengalami setidaknya satu insiden.
Kaspersky juga mencatat lebih dari separuh penawaran akses awal ke jaringan perusahaan yang diperdagangkan di forum dark web berkaitan dengan bisnis kecil dan menengah. Salah satu penyebabnya adalah sistem keamanan mereka yang cenderung lebih terbatas, tetapi tetap bisa menjadi pintu masuk ke perusahaan lain dalam rantai pasok (Periskop.id).
Tiga pintu masuk yang paling sering terjadi
Di Asia Pasifik, organisasi rata-rata menghadapi tiga jenis insiden keamanan berbeda dalam satu tahun. Untuk kelompok UMKM, urutan jenis serangan yang paling sering dilaporkan adalah (Periskop.id; VOI):
- eksploitasi kerentanan perangkat lunak: 20 persen;
- phishing: 19 persen;
- serangan malware massal: 18 persen.
Sebanyak 6 persen organisasi bahkan mengalami eksploitasi zero-day, yaitu celah keamanan yang belum diketahui atau belum memiliki pembaruan dari pengembang, sehingga relatif sulit dicegah.
Perlu dicatat, eksploitasi celah perangkat lunak berada di peringkat pertama — bukan penyerangan canggih yang tak terhindarkan, melainkan celah yang sebenarnya bisa ditutup dengan pembaruan rutin.
Masalah terbesar bukan teknologinya, tapi orangnya
Ketika responden diminta menyebut faktor yang meningkatkan peluang serangan berhasil, persoalan sumber daya manusia muncul di urutan teratas (Periskop.id; VOI; Tek.id):
- 26 persen menyoroti rendahnya kesadaran keamanan di kalangan karyawan non-TI;
- 24 persen menyebut kurangnya keahlian tenaga keamanan TI;
- 23 persen menunjuk penggunaan perangkat lunak atau perangkat keras yang usang;
- 22 persen menilai tidak ada asesmen risiko secara rutin;
- 22 persen menyebut tidak adanya solusi keamanan yang memadai.
Kaspersky juga menemukan 13 persen perusahaan di Asia Pasifik menempatkan kerentanan yang berkaitan dengan AI sebagai salah satu ancaman keamanan utama; di Indonesia porsinya 10 persen. Teknologi generatif, menurut laporan itu, membuat serangan lebih murah dan mudah dilakukan dalam skala besar — mulai dari menyusun pesan phishing yang lebih meyakinkan, meniru suara melalui vishing, hingga membuat deepfake (Periskop.id).
"Survei kami menunjukkan bahwa mereka menjadi sasaran utama pelaku ancaman modern yang menggunakan taktik tingkat perusahaan yang sama persis," kata Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia (VOI, 18 September 2026).
"Kenyataan saat ini, di mana perusahaan dari berbagai skala dapat menjadi sasaran berbagai metode serangan, mendorong dunia bisnis untuk meninjau kembali postur keamanan mereka," ujar Ilya Markelov, Head of Unified Platform Product Line di Kaspersky (Periskop.id, 14 September 2026).
Anggaran keamanan mulai naik
Tekanan ancaman tampaknya mulai mengubah perilaku bisnis. Survei mencatat 78 persen UMKM di Asia Pasifik meningkatkan anggaran keamanan siber pada tahun ini. Hampir separuhnya, 48 persen, mengalokasikan dana tambahan untuk memperluas tim TI dan keamanan TI, sedangkan 32 persen mengarahkannya ke solusi seperti XDR, NDR, dan SIEM. Di tingkat perusahaan Asia Pasifik secara umum, 75 persen berencana memperkuat fungsi keamanan TI (VOI; Tek.id).
Angka itu penting untuk dibaca secara realistis: tidak semua pemilik usaha kecil punya ruang anggaran seperti itu. Karena itu, urutan prioritas menjadi penting.
Lima langkah yang bisa dikerjakan minggu ini
Rekomendasi Kaspersky yang dirangkum dari pemberitaan mengarah pada penguatan proses dasar, bukan pembelian alat yang rumit (Tek.id, 14 September 2026; Uzone.id):
- Rapikan aturan akses. Tinjau siapa saja yang punya akses ke sumber daya internal dan layanan cloud, batasi sesuai kebutuhan peran, dan segera cabut akses karyawan yang sudah tidak bekerja.
- Perbarui perangkat. Prioritaskan pembaruan perangkat lunak dan perangkat keras, karena eksploitasi kerentanan menjadi jenis insiden paling banyak dilaporkan pada kelompok UMKM.
- Nyalakan pencadangan otomatis. Simpan salinan data secara rutin dan terpisah dari sistem utama, agar operasional tetap berjalan saat terjadi gangguan seperti ransomware.
- Latih karyawan non-TI. Materi pelatihan tidak berhenti pada phishing, tetapi mencakup deepfake dan vishing yang kini memanfaatkan AI.
- Jadwalkan asesmen risiko berkala dan gunakan autentikasi serta pengelolaan kredensial yang memadai, sesuai skala dan kemampuan sumber daya usaha.
Untuk bisnis yang baru mulai menata, urutan paling masuk akal adalah memperbaiki kebiasaan harian lebih dulu — kata sandi, pencadangan, dan pembaruan — sebelum menambah lapisan teknologi. Prinsip yang sama berlaku pada sistem apa pun yang dipakai usaha: pencatatan transaksi, pengelolaan stok, dan data pelanggan harus punya satu sumber data yang terlindungi. Bahasan sejenis dapat ditemukan di kanal berita CMNexus.
Catatan metodologi
Survei Kaspersky bersifat global dengan sampel 1.800 responden di 18 negara, dan angka "92 persen" merujuk pada perusahaan kecil dan menengah di Indonesia dengan definisi karyawan di bawah 500 orang. Angka ini menggambarkan pengalaman responden survei, bukan sensus seluruh UMKM Indonesia yang jumlahnya puluhan juta unit. Karena itu, hasilnya paling tepat dibaca sebagai indikator arah risiko di segmen usaha kecil dan menengah, bukan angka mutlak.
Sumber:
- Periskop.id — "Survei: 92% UMKM Indonesia Alami Insiden Siber, Celah Software Jadi Ancaman Utama" (14 September 2026) — https://periskop.id/bisnis/20260914/survei-92-umkm-indonesia-alami-insiden-siber-celah-software-jadi-ancaman-utama
- VOI.id — "Kaspersky: 92 Persen UMKM di Indonesia Alami Insiden Siber Setahun Terakhir" (18 September 2026) — https://voi.id/teknologi/594675/kaspersky-92-persen-umkm-di-indonesia-alami-insiden-siber-setahun-terakhir
- Medcom.id — "92% Ancaman Siber di Indonesia Makin Menyasar Bisnis Kecil" (16 September 2026) — https://www.medcom.id/teknologi/news-teknologi/0KvZjjpK-92-ancaman-siber-di-indonesia-makin-menyasar-bisnis-kecil
- Bisnis.com — "Kaspersky: 92% UMKM Indonesia Alami Insiden Siber, Phishing-Malware Paling Sering" (14 September 2026) — https://teknologi.bisnis.com/read/20260914/84/2003898/kaspersky-92-umkm-indonesia-alami-insiden-siber-phishing-malware-paling-sering
- Tek.id — "92% UMKM di Indonesia Alami Insiden Siber, Phishing hingga Malware Jadi Ancaman" (14 September 2026) — https://www.tek.id/insight/92-umkm-di-indonesia-alami-insiden-siber-b2qbi9ug5
- Uzone.id — "Waspada! 92 Persen UMKM RI Jadi Sasaran Penjahat Siber, Ini Modusnya" — https://uzone.id/waspada-92-persen-umkm-ri-jadi-sasaran-penjahat-siber-ini-modusnya
