AI 19 September 2026 315 pembaca

Adopsi AI Indonesia Tinggi, tapi Lebih dari 90 Persen UMKM Belum Naik Kelas

Adopsi AI Indonesia termasuk tertinggi di dunia, tetapi lebih dari 90 persen UMKM belum memanfaatkannya secara optimal — inilah anatomi kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia.

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
Adopsi AI Indonesia Tinggi, tapi Lebih dari 90 Persen UMKM Belum Naik Kelas

Jakarta, CMNexus. Indonesia termasuk negara dengan adopsi kecerdasan artifisial (AI) tertinggi di dunia, dan sebagian penggunanya sudah memakai model tercanggih untuk pekerjaan rumit. Namun rangkaian temuan sepanjang September 2026 menunjukkan persoalan utama Indonesia bukan lagi akses, melainkan kedalaman — dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berada paling jauh dari garis start.

Dua wajah adopsi AI Indonesia

White paper bertajuk Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) pada 3 September 2026 — dengan dukungan OpenAI dan kerja sama Vriens & Partners — memperkirakan AI berpotensi menyumbang hingga 366 miliar dolar AS, sekitar Rp5,8 kuadriliun, bagi ekonomi Indonesia pada 2030. Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, menegaskan angka itu menggambarkan kemungkinan, bukan kepastian. "Citasi laporan itu sebenarnya untuk menunjukkan kemungkinan. Jadi, itu kemungkinan bagaimana AI bisa berkontribusi ke ekonomi Indonesia pada tahun 2030," katanya dalam diskusi di Jakarta, seperti dikutip Kontan.

Sisi terangnya, Indonesia masuk lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk coding (Codex) dan analisis data, menurut temuan white paper tersebut. Namun analisis OpenAI di dalam laporan yang sama menemukan pengguna pada persentil ke-95 memakai lebih dari 11 kali lipat token penalaran dibandingkan pengguna median. Metrik itu bukan ukuran kemampuan atau produktivitas seseorang, melainkan gambaran seberapa kompleks tugas yang dikerjakan dengan bantuan model AI.

Artinya, manfaat AI hari ini terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna mahir, sementara mayoritas baru menyentuh penggunaan dasar.

Kesenjangan yang pindah dari akses ke kedalaman

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria merumuskan persoalan itu dengan tegas. "Ini bukan soal kesenjangan akses, tapi kesenjangan dalam hal kedalaman," ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers Komdigi. Menurut Komdigi, hampir separuh angkatan kerja Indonesia sudah memanfaatkan AI setiap minggu, tetapi kemampuan memakainya secara mendalam belum mengikuti — baik di tingkat individu maupun dunia usaha.

Di tingkat organisasi, riset AWS yang dikutip dalam white paper SEAPPI memperkuat gambaran serupa. Dari perusahaan di Indonesia yang sudah mengadopsi AI, hanya 10 persen yang juga mentransformasi bisnis mereka dengan teknologi tersebut, sementara 57 persen menyebut keterbatasan keterampilan digital sebagai salah satu kendala utama.

UMKM: fondasi digital belum tuntas

Bagi UMKM, jarak itu paling terasa. Data Kementerian UMKM (2026) yang dikutip Liputan6.com dan Media Indonesia menunjukkan lebih dari 90 persen pelaku UMKM belum memanfaatkan AI secara optimal dalam operasional bisnis mereka. Padahal sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2025 dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

Kesenjangan itu tidak tumbuh di ruang hampa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia sudah mengakses internet, naik dari 69,21 persen pada 2023. Angka itu memperlihatkan akses yang meluas, tetapi tidak otomatis berarti kesiapan berbisnis dengan AI. "Kita tidak bisa membangun satu AI house atau rumah AI atas fondasi yang bahkan belum pernah terdigitalisasi," kata Wamen Nezar.

VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, menempatkan persoalan pada efektivitas, bukan ketersediaan alat. "Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM bisa mengakses AI, tetapi sejauh mana AI dapat membantu mereka bekerja lebih efektif, menghemat biaya, dan meningkatkan omzet," ujarnya.

Literasi: dari platform sampai komunitas

Pakar budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menilai literasi dari para pengembang platform menjadi kunci. "Sama seperti era masuknya media digital, aplikasi-aplikasi perbelanjaan waktu awal dulu masuk mereka banyak melakukan sosialisasi dan pemberdayaan oleh platform. Nah sekarang saat era AI, sudah ada memang UMKM yang menggunakannya, tapi tetap perlu juga kembali diajarkan oleh para pengembang platform," katanya kepada ANTARA, Jumat (18/9/2026).

Firman menyoroti pemanfaatan AI di kalangan UMKM yang masih berputar pada pembuatan gambar ilustrasi untuk pemasaran. Menurutnya, pengembang platform dapat mengarahkan pelaku usaha ke penggunaan yang lebih bernilai: perencanaan pemasaran, manajemen bisnis, hingga pemahaman keamanan data. Ia juga mendorong pembentukan komunitas UMKM yang berminat pada AI sebagai wadah berbagi ilmu, karena pembelajaran lewat komunitas berlangsung dalam komunikasi yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari sisi kebijakan, SEAPPI merekomendasikan insentif bagi pelaku UMKM yang memanfaatkan AI, salah satunya dengan mengintegrasikan program UMKM Go Digital dengan bantuan finansial berupa subsidi atau skema voucher AI — termasuk dukungan berlangganan platform, akses layanan cloud, dan pengembangan kasus penggunaan berbasis API. Rekomendasi lain mencakup pengurangan pajak dan hibah bagi pengembang solusi AI berbasis kebutuhan lokal, platform kolaborasi antara institusi riset dan universitas, serta kepastian soal lembaga yang mengampu kebijakan AI.

Regulasi menyusul dengan pendekatan berbasis risiko

Komdigi menyatakan penguatan tata kelola tengah berjalan melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (STRANAS KA), Peta Jalan AI Nasional 2026–2029, serta Etika AI Nasional yang tengah diproses menjadi Peraturan Presiden dengan pendekatan berbasis risiko. Konsep Meaningful AI ditekankan: pemanfaatan yang memberi dampak nyata dengan tetap mengedepankan etika, keamanan data, akuntabilitas, dan transparansi. Empat sektor diprioritaskan lebih dulu — pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan sektor publik.

Pemerintah juga sudah menggelar pendampingan "Gapai Pasar Global dengan AI" yang dibuka Menteri Perdagangan Budi Santoso pada 9 September 2026. Program itu mencakup 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta, dengan materi riset pasar global, penyusunan katalog digital, hingga praktik pemasangan iklan digital.

Analisis: jendela peluang yang menyempit

Dibaca bersama, temuan-temuan itu menunjukkan tiga hal. Pertama, anggapan bahwa AI belum perlu bagi usaha kecil makin sulit dipertahankan ketika tugas pemasaran dan operasional rutin bisa dipangkas biayanya. Kedua, hambatan terbesar bukan harga perangkat, melainkan keterampilan dan fondasi digital — dua hal yang tidak bisa dibeli mendadak saat pesaing sudah bergerak. Ketiga, tanpa pemerataan kapabilitas, proyeksi manfaat ekonomi ratusan miliar dolar AS berisiko dinikmati segelintir pelaku saja, dan justru memperlebar jarak antar-usaha.

Langkah paling realistis bagi UMKM bukan membentuk tim AI sendiri, melainkan mengidentifikasi pekerjaan berulang yang paling menyita waktu — pembuatan konten, menjawab pertanyaan pelanggan, riset pasar sederhana — lalu mengukur hasilnya sebelum dan sesudah AI dipakai. Bagi pembuat kebijakan dan penyedia teknologi, ukuran keberhasilan sebaiknya tidak berhenti pada jumlah pengguna, tetapi mulai dihitung dari nilai tambah nyata bagi bisnis.

Ikuti perkembangan AI, UMKM, dan ekonomi digital lainnya di kanal berita CMNexus: https://cmnexus.com/news

Sumber

  1. ANTARA — "Literasi dari platform kunci UMKM maksimalkan AI untuk dampak ekonomi" (18 September 2026, 09:58 WIB): https://www.antaranews.com/berita/5746809/literasi-dari-platform-kunci-umkm-maksimalkan-ai-untuk-dampak-ekonomi
  2. Liputan6.com — "AI Jadi Senjata Baru UMKM Indonesia Menembus Pasar Global" (16 September 2026, 15:59 WIB): https://www.liputan6.com/tekno/read/8293035/ai-jadi-senjata-baru-umkm-indonesia-menembus-pasar-global
  3. Media Indonesia — "UMKM belum Optimalkan Penggunaan AI" (16 September 2026, 18:48): https://mediaindonesia.com/teknologi/934134/umkm-belum-optimalkan-penggunaan-ai
  4. Kontan.co.id — "Indonesia Berpeluang Raup Nilai Ekonomi AI US$366 Miliar pada 2030" (3 September 2026, 18:05 WIB): https://industri.kontan.co.id/news/indonesia-berpeluang-raup-nilai-ekonomi-ai-us366-miliar-pada-2030
  5. Selular.id — "White Paper SEAPPI Soroti Kesenjangan Kapabilitas AI dan Peluang Produktivitas Indonesia" (September 2026): https://selular.id/2026/09/white-paper-seappi-soroti-kesenjangan-kapabilitas-ai-dan-peluang-produktivitas-indonesia/
  6. Kompas Tekno — "Pengguna ChatGPT Indonesia Masuk 5 Besar Dunia, tapi Ada Masalah" (3 September 2026, 15:55 WIB): https://tekno.kompas.com/read/2026/09/03/15551177/pengguna-chatgpt-indonesia-masuk-5-besar-dunia-tapi-ada-masalah
  7. Kementerian Komunikasi dan Digital — Siaran Pers No. 126/HM-KKD/7/2026, "Tutup Kesenjangan Kapabilitas AI Nasional, Kemkomdigi Petakan Empat Langkah Strategis" (15 Juli 2026): https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/tutup-kesenjangan-kapabilitas-ai-nasional-kemkomdigi-petakan-empat-langkah-strategis
  8. Kementerian Perdagangan — "Mendag Busan Dorong Optimalisasi AI untuk Pemasaran Produk UMKM" (9 September 2026): https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/mendag-busan-dorong-optimalisasi-ai-untuk-pemasaran-produk-umkm
0 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.