Teknologi & Bisnis 11 September 2026 407 pembaca

Adopsi AI Melesat, Shadow AI Jadi Risiko Baru Perusahaan Indonesia dan Asia Pasifik

Riset Kaspersky mencatat 13% organisasi Asia Pasifik menempatkan kerentanan AI sebagai ancaman utama, dan 24% organisasi di Indonesia melaporkan penggunaan alat AI pihak ketiga oleh karyawan.

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
Adopsi AI Melesat, Shadow AI Jadi Risiko Baru Perusahaan Indonesia dan Asia Pasifik

Jakarta, CMNexus. Adopsi kecerdasan artifisial (AI) di perusahaan-perusahaan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, terus melaju. Namun laporan terbaru dari pusat penelitian internal Kaspersky menunjukkan akselerasi itu membawa risiko keamanan siber baru: penggunaan alat AI pihak ketiga oleh karyawan tanpa pengawasan resmi, atau yang dikenal sebagai shadow AI.

Temuan ini penting bagi pelaku usaha, dari korporasi sampai usaha kecil yang mulai memakai alat AI untuk membuat konten, merangkum dokumen, hingga melayani pelanggan. Semakin banyak pekerjaan yang dipindahkan ke alat AI, semakin besar pula data yang berpindah keluar dari kendali perusahaan.

Kerentanan AI mulai diperhitungkan serius

Riset Kaspersky yang dipublikasikan pada 9 September 2026 mencatat 13% organisasi di Asia Pasifik menempatkan kerentanan AI sebagai salah satu ancaman utama bagi sistem keamanan siber mereka. Angka itu masih di bawah eksploitasi celah perangkat lunak (20%) dan serangan phishing (19%), tetapi posisinya kini naik menjadi pertimbangan kritis dalam operasional bisnis modern di kawasan.

Tingkat kekhawatiran berbeda antarnegara: India mencatat proporsi tertinggi (20%), disusul Malaysia (15%), Thailand dan Vietnam (masing-masing 13%), kemudian Indonesia (10%), dan Tiongkok (7%).

Group Manager Kaspersky AI Technology Research Centre, Vladislav Tushkanov, menyatakan percepatan pemanfaatan AI untuk memangkas durasi proses bisnis berdampak langsung pada meningkatnya potensi serangan siber.

"Seiring organisasi secara aktif mengadopsi AI untuk mempercepat proses bisnis dan mengurangi beban kerja rutin, risiko keamanan seperti kerentanan AI dan shadow AI juga meningkat," ujarnya dalam laporan riset resmi tersebut.

Shadow AI: 24% organisasi di Indonesia melaporkan

Shadow AI menggambarkan kebiasaan karyawan memakai alat AI pihak ketiga — dari ChatGPT hingga DeepSeek — untuk tugas kerja tanpa izin resmi departemen TI. Praktik ini membuka jalan kebocoran data sensitif, mulai dari dokumen internal, data pelanggan, sampai informasi komersial.

Hasil survei menunjukkan sekitar 30% responden di Asia Pasifik menilai tren shadow AI sebagai faktor risiko yang sangat umum. Sebarannya: India (36%), Malaysia (35%), Vietnam (33%), Tiongkok (31%), Indonesia (24%), dan Thailand (18%).

Bagi banyak usaha kecil dan menengah yang belum punya kebijakan tertulis soal AI, angka itu menjadi pengingat bahwa alat AI yang dipakai tim sehari-hari sering kali berada di luar pantauan pemilik usaha.

60% organisasi memilih mengizinkan dengan pembatasan

Alih-alih melarang total, mayoritas perusahaan di kawasan memilih pendekatan moderat. Sebanyak 60% organisasi di Asia Pasifik mengizinkan penggunaan platform AI pihak ketiga dengan pembatasan ketat — misalnya melarang mengunggah nama perusahaan atau dokumen internal — serta menyediakan pedoman dan pelatihan penggunaan yang aman. Kebijakan serupa tercatat di Tiongkok (62%), serta India, Malaysia, dan Vietnam (masing-masing 61%).

Adopsi AI internal tetap melaju

Di sisi lain, integrasi AI ke dalam organisasi tidak melambat. Sebanyak 85% perusahaan di Asia Pasifik sedang mendiskusikan, mengembangkan, menerapkan, atau menguji coba alat AI berbasis Large Language Model (LLM), sementara 10% lainnya sudah mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam alur kerja.

Pendorong utamanya adalah peningkatan kualitas pengambilan keputusan, efisiensi proses, dan pengurangan kesalahan manusia. Secara global, survei yang sama menemukan 41% perusahaan menyatakan adopsi AI sebagai pendorong utama peningkatan investasi keamanan informasi mereka — bersaing dengan kenaikan biaya akibat insiden kebocoran data, migrasi ke infrastruktur cloud, dan insiden keamanan yang baru saja dialami.

Regulasi AI Indonesia di depan mata

Temuan ini muncul bersamaan dengan penyiapan kerangka regulasi AI nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut dua Rancangan Peraturan Presiden — tentang etika kecerdasan artifisial dan peta jalan kecerdasan artifisial nasional — sudah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden, dengan target terbit tahun ini.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan industri menantikan aturan tersebut sebagai panduan arah pengembangan AI. Setelah Perpres berlaku, kementerian dan lembaga akan diminta mengatur pemanfaatan AI sesuai bidang masing-masing, termasuk penerapan pendekatan berbasis tingkat risiko penggunaan.

Langkah praktis untuk pelaku usaha

Beberapa langkah berikut bisa menjadi titik awal tata kelola AI di perusahaan, besar maupun kecil:

  1. Inventarisasi alat AI yang benar-benar dipakai tim, termasuk akun pribadi yang dibawa masuk ke pekerjaan.
  2. Susun kebijakan tertulis yang jelas: data apa yang boleh dan tidak boleh diunggah ke alat AI publik.
  3. Klasifikasi data — pisahkan data publik, internal, dan sensitif (data pelanggan, keuangan, kontrak).
  4. Latih karyawan agar memahami risiko dan cara aman memakai alat AI.
  5. Kurangi alat yang tidak terkendali: pilih layanan dengan pengaturan kontrol data dan catat penggunaannya.

Kecepatan adopsi AI tidak harus dikorbankan. Yang dibutuhkan adalah kontrol yang sepadan, agar produktivitas naik tanpa membuka celah kebocoran data baru.

Ikuti perkembangan teknologi dan bisnis lainnya di kanal berita CMNexus.

Sumber: - Kaspersky, siaran pers "AI adoption is the main driver for companies boosting their IT Security budgets" (29 Juli 2026): https://www.kaspersky.com/about/press-releases/ai-adoption-is-the-main-driver-for-companies-boosting-their-it-security-budgets - Bisnis.com, "Kaspersky Ungkap Risiko Shadow AI Mengintai Korporasi Asia Pasifik" (9 September 2026): https://teknologi.bisnis.com/read/20260909/84/2002896/kaspersky-ungkap-risiko-shadow-ai-mengintai-korporasi-asia-pasifik - ITBeat, "Kaspersky Highlights Shadow AI Amid Rising Security Investments" (9 September 2026): https://www.itbeat.id/en/kaspersky-soroti-shadow-ai-di-tengah-peningkatan-investasi-keamanan/ - Pasardana, "Adopsi AI Melesat, Ancaman Shadow AI Mengintai Perusahaan Asia Pasifik" (9 September 2026): https://pasardana.id/news/2026/9/9/adopsi-ai-melesat-ancaman-shadow-ai-mengintai-perusahaan-asia-pasifik - Indotelko, "Shadow AI jadi risiko baru perusahaan di Asia Pasifik" (9 September 2026): https://www.indotelko.com/read/1788962137/shadow-ai-jadi-risiko-baru-perusahaan-di-asia-pasifik - Kompas Tekno, "Komdigi: Perpres AI Tinggal Tunggu Tanda Tangan Presiden, Target Terbit Tahun Ini" (3 September 2026): https://tekno.kompas.com/read/2026/09/03/20290047/komdigi--perpres-ai-tinggal-tunggu-tanda-tangan-presiden-target-terbit-tahun - ANTARA, "Perpres AI dinantikan industri jadi arah pengembangan AI nasional": https://www.antaranews.com/berita/5724532/perpres-ai-dinantikan-industri-jadi-arah-pengembangan-ai-nasional

0 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.