Jakarta, CMNexus — PT PLN (Persero) mencatat 159 pelanggan pusat data (data center) yang dilayaninya mengonsumsi 2.378 gigawatt hour (GWh) listrik, dengan total kapasitas tersambung 2.038 megavolt ampere (MVA). Angka tersebut disampaikan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo pada Sabtu (26/9/2026) dan menegaskan satu hal: pertumbuhan layanan digital dan kecerdasan artifisial (AI) kini terasa langsung pada infrastruktur energi.
"Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital," kata Darmawan, dikutip ANTARA dan Kompas.com.
99 persen kapasitas masih menumpuk di Jawa
Sekitar 99 persen kapasitas tersambung berada di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali), dengan Jawa Barat sebagai salah satu klaster pusat data terbesar. Pengembangan baru mulai bergerak ke luar wilayah itu, mencakup Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN Dini Sulistyawati menyebut konsumsi 2.378 GWh itu sebagai awal dari pertumbuhan yang lebih besar. Menurutnya, AI, cloud computing, dan layanan digital akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan. Tantangan terbesarnya, kata dia, adalah menjaga keseimbangan antara percepatan kapasitas pasokan, keandalan sistem, keterjangkauan harga, serta stabilitas jaringan dalam jangka panjang.
Karena itu PLN mendorong pendekatan early alignment, yaitu koordinasi dengan pengembang pusat data sejak tahap perencanaan agar kebutuhan daya dan jadwal operasi selaras dengan kesiapan jaringan, gardu induk, dan pembangkit.
Dari 580 MW menuju 25.297 MW
Proyeksi PLN yang dipaparkan pada ajang Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang (22/9/2026), memberi gambaran skala pertumbuhan sektor ini. Kapasitas IT terpasang pusat data di Indonesia saat ini sekitar 580 MW, diproyeksikan naik menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030, sementara kebutuhan kapasitas listrik sektor pusat data diperkirakan mencapai 25.297 MW pada 2034.
Bentuk permintaannya juga berubah. Menurut pemberitaan Kontan (3/9/2026), PLN sedang memproses tambahan permintaan sekitar 3.534 MW pada prioritas pertama dan sekitar 9.460,8 MW pada prioritas kedua.
"Permintaannya bukan lagi order 100-200, tetapi sudah order 1 GW, 2 GW, bahkan 3 GW," ujar Vice President Priority Account Executive Swasta dan Bisnis PLN Fauzi Arubusman. Untuk satu proyek berkapasitas 1 GW, PLN harus menyalurkan listrik pada level tegangan minimal 500 kilovolt (kV), dan pembangunannya diperkirakan membutuhkan waktu 3–5 tahun.
PLN juga menyiapkan pasokan energi bersih untuk sektor ini, antara lain melalui Renewable Energy Certificate (REC) dengan kapasitas sekitar 10.000 GWh serta skema dedicated source bersama pelanggan. Menurut PLN, pusat data membutuhkan tiga hal utama: pasokan listrik, air, dan konektivitas jaringan.
Batam menjadi uji kasus paling ketat
Di Batam, Kepulauan Riau, Badan Pengusahaan (BP) Batam memetakan kapasitas eksisting, komitmen, dan pipeline industri pusat data mencapai 1,47 GW kebutuhan daya untuk teknologi informasi (IT). Tahun 2029 diproyeksikan menjadi titik penting, ketika kebutuhan listrik pusat data mulai melampaui separuh beban puncak listrik Batam.
Pada saat yang sama, PLN Batam memperkirakan beban puncak listrik di wilayah itu naik hampir tiga kali lipat, dari 841 MW pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035, dengan rencana peningkatan daya mampu pasok hingga sekitar 3.691 MW. Artinya, pertumbuhan pusat data tidak bisa dipisahkan dari perencanaan pembangkit, transmisi, dan pasokan air di daerah tempat pusat data dibangun.
Apa artinya bagi pemilik usaha kecil
Bagi pemilik usaha, angka-angka di atas bukan sekadar urusan teknis perusahaan energi. Layanan yang dipakai sehari-hari — aplikasi kasir, penyimpanan data, pembukuan daring, hingga fitur AI untuk membuat konten promosi — berjalan di atas pusat data yang menuntut listrik dalam jumlah besar. Beberapa implikasi praktisnya:
- Kualitas layanan digital mengikuti sebaran infrastruktur. Karena hampir seluruh kapasitas masih di Jawa-Madura-Bali, usaha di luar Jawa kerap menerima respons aplikasi yang lebih lambat. Ekspansi pusat data ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi berpotensi memperbaiki hal ini dalam beberapa tahun ke depan, sehingga pemilik usaha di daerah punya alasan untuk memantau kesiapan penyedia layanan lokalnya.
- Harga layanan cloud dan AI ikut ditentukan keseimbangan pasokan. PLN sendiri menyebut keterjangkauan harga sebagai salah satu bagian tantangan. Ketika permintaan naik lebih cepat dari pasokan, biaya layanan berbasis komputasi cenderung ikut tertekan ke atas. Pemilik usaha sebaiknya menghitung ulang anggaran langganan digital secara berkala, bukan sekali saat awal berlangganan.
- Jangan bergantung pada satu jalur. Usaha yang seluruh transaksinya bergantung pada aplikasi berbasis internet sebaiknya menyiapkan prosedur cadangan sederhana: catatan penjualan manual, daftar kontak pelanggan yang tersimpan di perangkat sendiri, serta cara menerima pembayaran alternatif saat layanan terganggu.
- Rasionalkan langganan digital. Semakin banyak layanan AI berbayar yang dipakai, semakin penting memeriksa mana yang benar-benar menambah penjualan atau menghemat waktu, dan mana yang hanya menjadi biaya tetap.
- Manfaatkan momentum efisiensi. Seiring bertambahnya kapasitas komputasi nasional, pilihan alat digital untuk usaha kecil juga bertambah. Bandingkan minimal dua penyedia sebelum memperpanjang kontrak tahunan, dan pastikan lokasi penyimpanan data penyedia sesuai kebutuhan usaha Anda.
Pertumbuhan listrik untuk pusat data menunjukkan satu hal yang jarang disadari pemilik usaha kecil: digitalisasi bukan hanya soal aplikasi di layar ponsel, tetapi juga soal pembangkit, gardu induk, dan kabel yang menopangnya.
Baca juga analisis kami soal bagaimana teknologi digital mengubah operasional usaha kecil di kanal berita CMNexus.
---
Sumber: - ANTARA — "PLN sebut konsumsi energi data center sebesar 2.378 GWh" (26 September 2026): https://www.antaranews.com/berita/5759716/pln-sebut-konsumsi-energi-data-center-sebesar-2378-gwh - Kompas.com — "Konsumsi Listrik Data Center Capai 2.378 GWh, 99 Persen di Jawa dan Bali" (27 September 2026): https://money.kompas.com/read/2026/09/27/070700326/konsumsi-listrik-data-center-capai-2.378-gwh-99-persen-di-jawa-dan-bali - Republika — "PLN Perkuat Infrastruktur Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center 25 GW pada 2034" (23 September 2026): https://ekonomi.republika.co.id/berita/tlspvz451/pln-perkuat-infrastruktur-hadapi-lonjakan-kebutuhan-listrik-data-center-25-gw-pada-2034 - Kontan — "PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek" (3 September 2026): https://industri.kontan.co.id/news/pln-ungkap-pesanan-listrik-data-center-kini-tembus-1-3-gw-per-proyek - ANTARA — "BP Batam pastikan keandalan energi dukung 1,47 GW data center" (25 September 2026): https://www.antaranews.com/berita/5758891/bp-batam-pastikan-keandalan-energi-dukung-147-gw-data-center - Detik Finance — "PLN Perkuat Infrastruktur Hadapi Lonjakan Listrik Data Center di 2034" (23 September 2026): https://finance.detik.com/energi/d-8675431/pln-perkuat-infrastruktur-hadapi-lonjakan-listrik-data-center-di-2034
Jakarta, CMNexus — PT PLN (Persero) recorded that 159 data center customers it serves consumed 2,378 gigawatt hours (GWh) of electricity, with a total connected capacity of 2,038 megavolt-amperes (MVA). The figure was disclosed by PLN President Director Darmawan Prasodjo on Saturday (26/9/2026), highlighting one key reality: the growth of digital services and artificial intelligence (AI) is now directly impacting energy infrastructure.
"The rising demand for electricity within the data center ecosystem demonstrates the growing importance of energy infrastructure to the growth of the digital economy," said Darmawan, as quoted by ANTARA and Kompas.com.
99 percent of capacity remains concentrated in Java
Around 99 percent of connected capacity is located in the Java-Madura-Bali (Jamali) power grid, with West Java serving as one of the largest data center clusters. New development is only beginning to move beyond these areas to include Sumatra, Kalimantan, and Sulawesi.
PLN Executive Vice President of Enterprise Customer Sales and Service Dini Sulistyawati called the 2,378 GWh consumption just the start of even greater growth. According to her, AI, cloud computing, and digital services will continue to generate new electricity demand on a massive scale. The greatest challenge, she noted, is maintaining a balance among supply capacity acceleration, system reliability, price affordability, and long-term grid stability.
For this reason, PLN is promoting an early alignment approach—coordinating with data center developers from the planning phase so that power demands and operational timelines align with the readiness of grids, substations, and power plants.
From 580 MW toward 25,297 MW
PLN's projections, presented at the Electricity Connect 2026 event at ICE BSD, Tangerang (22/9/2026), illustrate the scale of growth in the sector. Installed IT capacity for data centers in Indonesia currently stands at around 580 MW, projected to rise to 3.5 gigawatts (GW) by 2030, while the data center sector's power capacity demand is estimated to reach 25,297 MW by 2034.
The nature of demand is also shifting. According to reporting by Kontan (3/9/2026), PLN is processing additional requests of around 3,534 MW in its first priority tier and around 9,460.8 MW in its second priority tier.
"The requests are no longer orders of 100–200 MW, but orders of 1 GW, 2 GW, or even 3 GW," said PLN Vice President Priority Account Executive for Private and Business Fauzi Arubusman. For a single 1 GW capacity project, PLN must supply power at a minimum voltage level of 500 kilovolts (kV), with construction estimated to take 3–5 years.
PLN is also preparing clean energy supplies for the sector, including through Renewable Energy Certificates (RECs) with a capacity of around 10,000 GWh, as well as dedicated source schemes in collaboration with customers. According to PLN, data centers require three main components: power supply, water, and network connectivity.
Batam emerges as the ultimate test case
In Batam, Riau Islands, the Batam Free Zone Authority (BP Batam) mapped out existing capacity, commitments, and pipeline projects for the data center industry reaching 1.47 GW of power demand for information technology (IT). The year 2029 is projected to be a critical milestone, when data center power demand will begin to exceed half of Batam's peak electricity load.
At the same time, PLN Batam estimates the region's peak electricity load will nearly triple, from 841 MW in 2026 to 2,540 MW in 2035, with plans to increase available supply capacity to around 3,691 MW. This means data center expansion cannot be separated from the planning of power generation, transmission, and water supply in the areas where facilities are built.
What this means for small business owners
For business owners, the figures above are not merely technical matters for energy utilities. The services used daily—point-of-sale apps, cloud storage, online bookkeeping, and even AI features for generating marketing content—rely on data centers that demand massive amounts of electricity. Some practical implications include:
- Digital service quality mirrors infrastructure distribution. Because nearly all capacity remains concentrated in Java-Madura-Bali, businesses outside Java frequently experience slower application response times. Data center expansion into Sumatra, Kalimantan, and Sulawesi has the potential to improve this in the coming years, giving regional business owners reason to monitor the readiness of local service providers.
- Cloud and AI service pricing depends on supply-demand balance. PLN itself cited affordability as part of the challenge. When demand rises faster than supply, the cost of compute-based services tends to face upward pressure. Business owners should periodically recalculate digital subscription budgets rather than doing so only at initial sign-up.
- Do not rely on a single channel. Businesses whose transactions depend entirely on internet-based applications should establish simple contingency procedures: manual sales logs, customer contact lists stored locally on devices, and alternative payment acceptance methods when service outages occur.
- Rationalize digital subscriptions. As more paid AI services enter the workflow, it becomes increasingly important to assess which tools genuinely boost sales or save time, and which have simply turned into fixed overhead.
- Leverage the momentum of efficiency. As national computing capacity expands, digital tool options for small businesses will also grow. Compare at least two providers before renewing annual contracts, and verify that the provider's data storage locations align with your business needs.
The surge in power demand for data centers highlights one reality rarely recognized by small business owners: digitalization is not just about the apps on a smartphone screen, but also about the power plants, substations, and transmission lines keeping them running.
Read also our analysis on how digital technology is transforming small business operations on the CMNexus news channel.
---
Sources: - ANTARA — "PLN sebut konsumsi energi data center sebesar 2.378 GWh" (26 September 2026): https://www.antaranews.com/berita/5759716/pln-sebut-konsumsi-energi-data-center-sebesar-2378-gwh - Kompas.com — "Konsumsi Listrik Data Center Capai 2.378 GWh, 99 Persen di Jawa dan Bali" (27 September 2026): https://money.kompas.com/read/2026/09/27/070700326/konsumsi-listrik-data-center-capai-2.378-gwh-99-persen-di-jawa-dan-bali - Republika — "PLN Perkuat Infrastruktur Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center 25 GW pada 2034" (23 September 2026): https://ekonomi.republika.co.id/berita/tlspvz451/pln-perkuat-infrastruktur-hadapi-lonjakan-kebutuhan-listrik-data-center-25-gw-pada-2034 - Kontan — "PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek" (3 September 2026): https://industri.kontan.co.id/news/pln-ungkap-pesanan-listrik-data-center-kini-tembus-1-3-gw-per-proyek - ANTARA — "BP Batam pastikan keandalan energi dukung 1,47 GW data center" (25 September 2026): https://www.antaranews.com/berita/5758891/bp-batam-pastikan-keandalan-energi-dukung-147-gw-data-center - Detik Finance — "PLN Perkuat Infrastruktur Hadapi Lonjakan Listrik Data Center di 2034" (23 September 2026): https://finance.detik.com/energi/d-8675431/pln-perkuat-infrastruktur-hadapi-lonjakan-listrik-data-center-di-2034