Jakarta, CMNexus. Indonesia resmi menjadi salah satu pendiri Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO) — organisasi antar-pemerintah yang berfokus pada kerja sama AI di ranah sipil secara inklusif dan non-diskriminatif. Kesepakatan pendirian ditandatangani 29 negara di Shanghai, Tiongkok, pada 16 Juli 2026, sehari sebelum pembukaan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut keikutsertaan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas 13 Juli 2026. Lewat WAICO, Indonesia membuka peluang kerja sama pengembangan AI, penguatan kapasitas (capacity building), transfer teknologi, hingga akses data.
Bukan Sekadar Pasar
Dalam keterangannya dari Shanghai, Airlangga menegaskan arah kebijakan: Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar atau konsumen produk teknologi asing. Karena itu, pemerintah mempercepat adopsi AI, robotika, semikonduktor, dan teknologi digital lain di berbagai sektor — sembari memastikan negara mampu mengelola, mengembangkan, dan menguasai teknologi tersebut.
Target ekonominya ambisius. Airlangga memperkirakan ekonomi digital Indonesia bakal tumbuh menuju US$300 miliar, dengan AI sebagai salah satu mesin utamanya. "Untuk negara seperti Indonesia, penerapan AI bisa dimanfaatkan di sektor pertanian, transisi energi, energi terbarukan, dan pengembangan berbagai sektor digital termasuk kesehatan," ujarnya.
National AI Roadmap dan 182 Pusat Data
Untuk menangkap peluang itu, pemerintah menyusun National AI Roadmap sebagai acuan pengembangan ekosistem AI nasional — mencakup investasi infrastruktur digital, pengembangan talenta, riset dan inovasi, serta tata kelola AI yang bertanggung jawab.
Infrastruktur disebut sebagai fondasi utama. Airlangga mengungkapkan Indonesia saat ini telah mengoperasikan 182 pusat data, dengan konsentrasi terbesar di Jakarta (94) dan Batam (16). Meningkatnya kebutuhan komputasi awan dan AI disebut bakal membuka peluang investasi besar di sektor pusat data dan industri pendukungnya.
Momentum Investasi dan Artinya bagi Bisnis
Keseriusan membangun "hulu" AI mulai menunjukkan hasil nyata. Pada Agustus 2026, Chairman AMAN Corpora Group James Karnadi mengamankan komitmen investasi tahap awal US$1 juta (sekitar Rp16 miliar) untuk membangun AMAN AI Compute and Cybersecurity Hub di Indonesia — infrastruktur komputasi AI, laboratorium keamanan siber, lingkungan pengujian model, dan pelatihan talenta.
"Tidak ada kedaulatan AI tanpa infrastruktur. Jika seluruh komputasi, data, keamanan, dan keahlian masih bergantung pada pihak luar, Indonesia hanya akan menjadi pasar," tegas James.
Bagi pelaku usaha — termasuk UMKM — arah kebijakan ini berarti ekosistem AI nasional yang perlahan terbentuk: infrastruktur lebih dekat, talenta lebih banyak, dan layanan AI yang lebih terjangkau untuk diadopsi. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang hadir pada pembukaan WAIC 2026 berharap WAICO menjadi platform AI yang inklusif dan bertanggung jawab serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.
Baca juga liputan teknologi dan UMKM lainnya di CMNexus News.
--- Ditulis oleh Tim Editorial CMNexus. Sumber: ANTARA, VOI, Kompas, OpenGov Asia, DDTCNews, MetroTV, TopBusiness.
Jakarta, CMNexus. Indonesia has officially become a founding member of the World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO)—an intergovernmental organization focused on civilian AI cooperation in an inclusive and non-discriminatory manner. The founding agreement was signed by 29 nations in Shanghai, China, on July 16, 2026, a day prior to the opening of the World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 by Chinese President Xi Jinping.
Coordinating Minister for Economic Affairs Airlangga Hartarto stated that this participation directly follows directives issued by President Prabowo Subianto during a limited cabinet meeting on July 13, 2026. Through WAICO, Indonesia unlocks opportunities for cooperation in AI development, capacity building, technology transfer, and data access.
More Than Just a Market
In a statement delivered from Shanghai, Airlangga emphasized the government's policy direction: Indonesia does not want to remain merely a market or a consumer of foreign technology products. Consequently, the government is accelerating the adoption of AI, robotics, semiconductors, and other digital technologies across various sectors—while ensuring the nation is capable of managing, developing, and mastering these technologies.
The economic targets are ambitious. Airlangga projected that Indonesia's digital economy will grow toward US$300 billion, with AI serving as one of its primary growth engines. "For a country like Indonesia, AI adoption can be leveraged across agriculture, the energy transition, renewable energy, and the development of various digital sectors, including healthcare," he said.
National AI Roadmap and 182 Data Centers
To seize these opportunities, the government is formulating a National AI Roadmap as a benchmark for national AI ecosystem development—encompassing digital infrastructure investment, talent development, research and innovation, as well as responsible AI governance.
Infrastructure was underscored as the primary foundation. Airlangga revealed that Indonesia currently operates 182 data centers, with the highest concentrations located in Jakarta (94) and Batam (16). The rising demand for cloud computing and AI is expected to unlock massive investment opportunities in the data center sector and its supporting industries.
Investment Momentum and What It Means for Business
Efforts to build the "upstream" layer of AI are beginning to yield tangible results. In August 2026, AMAN Corpora Group Chairman James Karnadi secured an initial investment commitment of US$1 million (approximately Rp16 billion) to establish the AMAN AI Compute and Cybersecurity Hub in Indonesia—comprising AI computing infrastructure, a cybersecurity laboratory, model testing environments, and talent development facilities.
"There is no AI sovereignty without infrastructure. If all computing, data, security, and expertise remain dependent on foreign entities, Indonesia will simply be a market," James asserted.
For business operators—including MSMEs—this policy trajectory signals a national AI ecosystem taking shape: closer infrastructure, a deeper talent pool, and more affordable AI services ready for adoption. UN Secretary-General António Guterres, who attended the WAIC 2026 opening, voiced hopes that WAICO will become an inclusive and responsible AI platform that supports sustainable development goals.
Read more technology and MSME coverage at CMNexus News.
--- Written by the CMNexus Editorial Team. Sources: ANTARA, VOI, Kompas, OpenGov Asia, DDTCNews, MetroTV, TopBusiness.
SOLUSI DIGITAL TERPADUSiap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?
Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.