Teknologi & Bisnis 18 September 2026 244 pembaca

Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia Melonjak, PLN Siapkan Tambahan 69,5 GW

Kebutuhan listrik data center Indonesia diproyeksi naik dari 1.098 MW pada 2025 ke 2.122 MW pada 2026 dan 5.226 MW pada 2034, sementara PLN menyiapkan tambahan 69,5 GW pembangkit.

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia Melonjak, PLN Siapkan Tambahan 69,5 GW

Jakarta, CMNexus. Kebutuhan listrik untuk industri pusat data (data center) di Indonesia diproyeksikan naik hampir lima kali lipat dalam satu dekade. Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, kebutuhan listrik data center diperkirakan meningkat dari sekitar 1.098 megawatt (MW) pada 2025 menjadi sekitar 2.122 MW pada 2026, lalu terus bertambah hingga sekitar 5.226 MW pada 2034, sebagaimana diberitakan Bisnis.com (7/9/2026), Urbannews.id (8/9/2026), dan RRI (14/9/2026).

Dari 1.098 MW ke 5.226 MW

Pada 2034, sekitar 4.621 MW dari proyeksi kebutuhan tersebut diperkirakan berada di dalam sistem PLN dan sekitar 605 MW melalui PLN Batam. Lonjakan itu menggambarkan besarnya tantangan sistem kelistrikan nasional untuk mengimbangi ekspansi industri pusat data, terutama ketika beban komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI) terus bertambah.

Mayoritas data center saat ini berada di klaster strategis seperti Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek yang ditopang sistem kelistrikan Jawa-Bali.

"Guna mengantisipasi lonjakan konsumsi daya data center dalam beberapa tahun ke depan, Pemerintah bersama PLN telah menyiapkan langkah ekspansi melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan inisiatif energi terbarukan," kata Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, seperti dikutip Bisnis.com dan RRI dari keterangan persnya.

Pernyataan senada juga muncul dari sisi pemerintah. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan AI dan data center termasuk pilar utama pengembangan ekonomi digital Indonesia, dengan pembangunan pusat data berkapasitas pipeline 1,17 GW yang dirancang menyerap lebih dari 600.000 tenaga kerja profesional, sebagaimana dilaporkan ANTARA (27/8/2026).

69,5 GW, 47.758 kilometer sirkuit, dan 107.950 MVA

Untuk mengejar kebutuhan itu, PLN menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sekitar 69,5 gigawatt (GW) dalam RUPTL 2025–2034. Sekitar 76 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan Battery Energy Storage System (BESS).

PLN juga merencanakan pembangunan jaringan transmisi sekitar 47.758 kilometer sirkuit hingga 2034, serta tambahan kapasitas gardu induk sekitar 107.950 MVA. Pembangkit dan transmisi saja tidak cukup: kesiapan gardu induk, jaringan cadangan, dan koneksi menuju lokasi data center menentukan apakah tambahan kapasitas bisa benar-benar dipakai industri yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Pemerintah juga mendorong program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan Presiden dan diluncurkan pada 25 Agustus 2026, sebagai bagian dari perluasan pemanfaatan energi bersih.

Kapasitas terpasang 580–630 MW, pipeline 1,3 GW

Dari sisi permintaan, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma menyebut kapasitas data center nasional hingga Mei 2026 telah mencapai sekitar 630 MW, sementara pipeline tambahan yang disampaikan pemerintah mencapai sekitar 1,3 GW. Angka kapasitas yang berbeda datang dari Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, yang menyebut kapasitas operasional sekitar 580 MW dengan pipeline tambahan sekitar 1,3 GW. Keduanya diwawancarai Kontan pada 13 September 2026.

IDPRO memperkirakan kebutuhan kapasitas data center pada 2026 tumbuh sekitar 35–45 persen. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, tambahan kebutuhan daya diperkirakan sekitar 300 MW–400 MW, terutama berasal dari hyperscaler, AI, dan edge deployment.

Sejumlah proyek telah memperoleh komitmen pasokan listrik berskala besar dari PLN: 511 MVA untuk DayOne di Batam, lebih dari 1 GW untuk pengembangan BDx di sejumlah lokasi, 2 x 725 MVA untuk kampus Digital Edge, serta kerja sama NeutraDC untuk ekspansi hyperscale di Cikarang hingga 200 MW.

Risiko kelebihan pasokan yang bersifat lokal

Hendra mengingatkan bahwa pipeline besar belum berarti seluruh kapasitas masuk pasar bersamaan. Industri perlu membedakan kapasitas yang baru diumumkan, kapasitas dengan kepastian pasokan listrik, yang sedang dibangun, yang telah beroperasi, hingga yang sudah dikontrak pelanggan.

"Ukuran keberhasilan bukan seberapa besar kapasitas yang diumumkan, tetapi berapa besar kapasitas yang benar-benar commissioned, contracted dan utilized," tegasnya. Menurut dia, risiko kelebihan pasokan lebih mungkin terjadi secara lokal atau pada segmen tertentu ketimbang menjadi oversupply nasional.

Heru Sutadi menambahkan catatan serupa: pembangunan sebaiknya bertahap mengikuti kontrak atau kebutuhan pelanggan yang jelas. "Peluangnya besar, tetapi jangan sampai terjadi pembangunan kapasitas lebih cepat daripada pertumbuhan pelanggan," ujarnya kepada Kontan.

Tantangan berikutnya adalah ketersediaan lahan yang sudah terhubung listrik dan jaringan telekomunikasi. Hendra menyebut konsep powered and connected land semakin menentukan, karena data center butuh pasokan besar sekaligus andal: redundansi jaringan, kestabilan tegangan dan frekuensi, kapasitas gardu, serta kepastian tambahan daya sesuai jadwal pengembangan. Kebutuhan lahan untuk data center berskala AI dapat mencapai 10 hektare hingga 30 hektare atau lebih, dan konsumsi air untuk pendinginan membuat sistem closed-loop serta direct liquid cooling menjadi pilihan untuk menekan pemakaian air.

Apa artinya bagi pelaku usaha

Pertumbuhan pusat data bukan hanya urusan korporasi besar. Layanan komputasi awan, aplikasi kasir digital, e-commerce, sampai agen AI yang mulai dipakai pelaku UMKM bertumpu pada pusat data yang pasokan listriknya stabil. Karena itu, kecepatan pembangunan pembangkit, transmisi, dan gardu induk berpengaruh pada ketersediaan, kualitas, dan biaya layanan digital yang dirasakan bisnis di hilir.

Dari sisi daya saing, Bisnis.com mencatat Malaysia memiliki pipeline data center yang mendekati 13 GW, sementara Indonesia tercatat memiliki pipeline 5.848 MW. Selain jumlah megawatt, kualitas energi ikut menentukan: sebagian besar anggota IDPRO telah memiliki komitmen net zero emission pada 2030, sejalan dengan tuntutan pelanggan hyperscaler global.

"Competitiveness Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan listrik, tetapi juga apakah listrik tersebut reliable, scalable, competitive dan increasingly green," pungkas Hendra.

Catatan redaksi

Terdapat perbedaan angka kapasitas data center yang beroperasi: IDPRO menyebut sekitar 630 MW per Mei 2026, sedangkan Indonesia ICT Institute menyebut sekitar 580 MW. Artikel ini memuat keduanya beserta lembaga sumbernya karena basis penghitungan keduanya tidak dirinci dalam pemberitaan. Seluruh angka dan kutipan dalam artikel ini berasal dari sumber yang tercantum di bawah, tanpa penambahan data yang tidak diverifikasi.

Liputan teknologi dan bisnis lain dapat dibaca di kanal berita kami: https://cmnexus.com/news

Sumber

  1. Bisnis.com — "PLN Siap Kejar Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia" (7/9/2026): https://teknologi.bisnis.com/read/20260907/101/2001736/pln-siap-kejar-lonjakan-kebutuhan-listrik-data-center-indonesia
  2. RRI — "Sistem Listrik Jadi Tantangan Keberadaan Data Center di Indonesia" (14/9/2026): https://rri.co.id/denpasar/iptek/2722157/sistem-listrik-jadi-tantangan-keberadaan-data-center-di-indonesia
  3. Kontan — "Investasi Data Center RI Tembus Pipeline 1,3 GW, Risiko Oversupply Mengintai" (13/9/2026): https://industri.kontan.co.id/news/investasi-data-center-ri-tembus-pipeline-13-gw-risiko-oversupply-mengintai
  4. Kontan — "Investasi Data Center Berpacu dengan Pertumbuhan Permintaan" (13/9/2026): https://industri.kontan.co.id/news/investasi-data-center-berpacu-dengan-pertumbuhan-permintaan
  5. Urbannews.id — "Kebutuhan Listrik Data Center Melonjak, PLN Siapkan Tambahan Kapasitas Hingga 2034" (8/9/2026): https://www.urbannews.id/2026/09/08/kebutuhan-listrik-data-center-melonjak-pln-siapkan-tambahan-kapasitas-hingga-2034/
  6. ANTARA News — "AI, data centers main pillars of Indonesia's digital economy: Gov't" (27/8/2026): https://en.antaranews.com/news/428716/ai-data-centers-main-pillars-of-indonesias-digital-economy-govt
0 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.