UMKM 20 September 2026 244 pembaca

Lokapasar Bahan Baku MBG Disiapkan, UMKM dan Petani Lokal Diminta Jadi Pemain Utama

BGN menyiapkan lokapasar pengadaan bahan baku MBG dengan enam komoditas awal dan pemasok terverifikasi. DPR meminta UMKM, petani, dan peternak lokal jadi pemain utama.

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
Lokapasar Bahan Baku MBG Disiapkan, UMKM dan Petani Lokal Diminta Jadi Pemain Utama

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan lokapasar (marketplace) khusus untuk pengadaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem itu mengadopsi mekanisme Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah (SIPLah) yang selama ini dipakai untuk mengelola belanja dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kepala BGN Sudaryono menargetkan lokapasar tersebut mulai beroperasi pada akhir September atau awal Oktober 2026, dengan enam komoditas pada tahap awal.

Transparansi menjadi alasan utama. "Sehingga kita tahu nanti transaksinya jelas, perpajakannya jelas dan lain sebagainya," ujar Sudaryono dalam keterangan yang disampaikan melalui akun Instagram-nya, Sabtu (12/9/2026), dikutip detikHealth. Pemerintah ingin mengetahui secara jelas siapa pemasoknya, berapa harga barang, bagaimana transaksinya, hingga bagaimana aspek perpajakannya.

Enam komoditas, pemasok wajib terverifikasi

Pada tahap awal, enam komoditas yang masuk sistem adalah daging sapi atau kerbau, daging ayam, telur, beras, minyak goreng, dan susu. BGN juga akan menerapkan mekanisme verified seller, sehingga pemasok bahan baku MBG tidak bisa berasal dari sembarang pihak.

"Nanti akan ada dari sisi marketplace-nya akan ke asosiasi. Jadi belinya itu adalah yang verified seller. Nah, verified seller itu siapa? Ya adalah asosiasi itu," jelas Sudaryono.

BGN tengah menyusun mekanisme agar pengadaan sebisa mungkin dilakukan dari wilayah setempat. Dapur MBG di suatu daerah diarahkan membeli komoditas dari wilayahnya sendiri. Sudaryono memberi contoh pengadaan telur untuk dapur MBG di Mojokerto: selama stok tersedia, telur diprioritaskan berasal dari Mojokerto.

"Nah nanti ada cakupannya, misalnya kalau di Mojokerto, beli telur ya Mojokerto aja, nggak boleh beli telur dari luar kabupaten. Kalau di dalam kabupatennya nggak ada barangnya gimana? Baru dia boleh nyebrang," tuturnya. Menurut dia, pola tersebut disusun agar dampak ekonomi program terlihat hingga tingkat daerah: "Jadi ini mekanisme sedang saya susun. Sehingga indeks ekonominya itu kelihatan."

DPR: UMKM jangan sekadar penonton

Rencana itu mendapat perhatian Komisi VII DPR RI. Wakil Ketua Komisi VII Evita Nursanty menilai digitalisasi pengadaan harus sekaligus menjadi instrumen memperluas pasar bagi UMKM, koperasi, petani, peternak, dan pemasok lokal.

"Lokapasar MBG jangan sampai hanya menjadi tempat bertemunya pembeli besar dengan pemasok besar. UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal harus menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton dalam rantai pasok MBG," tegas Evita dalam keterangan yang diterima, Selasa (15/9/2026), seperti dilaporkan ANTARA.

Evita mendukung penerapan sistem verified seller untuk menjamin transparansi, kualitas, dan akuntabilitas. Namun ia mengingatkan agar proses verifikasi tidak berubah menjadi hambatan administratif maupun digital bagi pelaku usaha kecil. BGN, katanya, perlu menyediakan pendampingan agar pemasok lokal yang memenuhi standar lebih mudah masuk ke dalam sistem.

Ia juga menyoroti kepastian pembayaran. "Jangan sampai UMKM sudah memasok barang tetapi harus menunggu lama untuk dibayar. Bagi UMKM, arus kas adalah urat nadi usaha. Karena itu sistem pembayaran harus transparan, cepat, dan memiliki batas waktu yang jelas," ujarnya.

Menurut Evita, keberhasilan lokapasar MBG tidak cukup diukur dari kecanggihan platform, melainkan dari seberapa banyak UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal yang berhasil masuk ke rantai pasok dan meningkatkan kapasitas usahanya.

Dasar hukum dan permintaan aturan teknis

Anggota Komisi VII DPR RI Andhika Satya Wasistho menyebut Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 sudah memberikan dasar mengenai prioritas penggunaan komoditas dalam negeri serta pelibatan usaha mikro, kecil, koperasi, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga BUMDesa. Karena itu, ia meminta aturan turunan yang lebih teknis segera disiapkan sebelum lokapasar resmi dijalankan.

"Marketplace MBG harus menjadi instrumen yang benar-benar mendorong perputaran ekonomi daerah dan memberdayakan petani, peternak, koperasi, serta UMKM lokal. Jangan sampai hanya menjadi tempat bertemunya pembeli besar dengan pemasok besar," kata Andhika, Kamis (17/9/2026).

Ia menyoroti mekanisme verified seller melalui jejaring asosiasi. Verifikasi dinilai dapat memperkuat standardisasi mutu dan ketersediaan bahan, tetapi ia meminta ada jalur verifikasi alternatif dan pendampingan agar petani serta peternak kecil tetap bisa masuk sebagai pemasok. "Asosiasi tidak boleh menjadi klub eksklusif," ujarnya.

Andhika juga mendorong indikator dampak ekonomi daerah, antara lain penetapan kandungan lokal (local content) dan prioritas penyerapan komoditas dari wilayah terdekat selama ketersediaannya mencukupi. Pengawasan, menurutnya, tidak boleh terpusat di BGN: dinas pertanian, peternakan, koperasi, dan UMKM di daerah perlu diberi peran formal dalam verifikasi dan pemantauan, dengan dukungan dashboard multi-level.

Dari Komisi IX, Anggota DPR Achmad Ru'yat meminta BGN memastikan lokapasar membuka akses yang adil bagi petani, peternak, nelayan, UMKM, dan koperasi di daerah. "Jangan sampai digitalisasi justru membuat pengadaan semakin terkonsentrasi pada pemasok tertentu," katanya, Rabu (16/9/2026). Ia menekankan MBG harus memberi manfaat ganda: memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Apa artinya bagi pelaku usaha kecil

Bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang ingin masuk rantai pasok MBG, tiga hal ini menjadi pekerjaan rumah: (1) legalitas dan jejak transaksi yang rapi, karena perpajakan dan rekam jejak penyedia menjadi bagian dari desain sistem; (2) kesiapan kapasitas pasokan untuk komoditas bernilai besar seperti beras, telur, ayam, daging, dan minyak goreng; serta (3) kejelasan wadah verifikasi — asosiasi, koperasi, atau jalur alternatif yang masih menunggu aturan teknis. Perkembangan kebijakan sektor digital dan UMKM semacam ini kami rangkum di kanal CMNexus News.

---

Sumber

  1. detikHealth — "BGN Siapkan Marketplace Khusus Pengadaan Bahan Baku MBG" (Minggu, 13 September 2026) — https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8661160/bgn-siapkan-marketplace-khusus-pengadaan-bahan-baku-mbg
  2. ANTARA — "Lokapasar MBG didorong untuk perluas pasar UMKM dan pemasok lokal" (Selasa, 15 September 2026) — https://www.antaranews.com/berita/5741569/lokapasar-mbg-didorong-untuk-perluas-pasar-umkm-dan-pemasok-lokal
  3. SindoNews — "BGN Luncurkan Marketplace MBG, Evita: Jangan Biarkan UMKM dan Pemasok Lokal Jadi Penonton" (Selasa, 15 September 2026) — https://nasional.sindonews.com/read/1750037/12/bgn-luncurkan-marketplace-mbg-evita-jangan-biarkan-umkm-dan-pemasok-lokal-jadi-penonton-1789448983
  4. CNN Indonesia — "BGN Siapkan Marketplace untuk Bahan Baku MBG, Ini Alasannya" (Kamis, 17 September 2026) — https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260917152317-92-1405065/bgn-siapkan-marketplace-untuk-bahan-baku-mbg-ini-alasannya
  5. Rakyat Merdeka — "Komisi VII Sambut Positif Marketplace MBG, Jangan Biarkan UMKM dan Pemasok Lokal Jadi Penonton" (Kamis, 17 September 2026) — https://rm.id/baca-berita/parlemen/326459/komisi-vii-sambut-positif-marketplace-mbg-jangan-biarkan-umkm-dan-pemasok-lokal-jadi-penonton
  6. TODAYNEWS.ID — "Marketplace MBG Wajib Libatkan Petani dan UMKM Lokal" (Rabu, 16 September 2026) — https://todaynews.id/marketplace-mbg-wajib-libatkan-petani-dan-umkm-lokal/

Catatan: artikel ini menyusun ulang keterangan resmi BGN dan pernyataan anggota DPR RI dari pemberitaan di atas. Belum ada keterangan resmi tertulis mengenai Peraturan BGN/petunjuk teknis maupun mekanisme sanggah bagi pemasok yang belum lolos verifikasi.

0 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.