AI 18 September 2026 281 pembaca

OpenAI Ungkap Enam Kasus AI Berperilaku Menyimpang, Luncurkan Kerangka Pelaporan

OpenAI merilis enam laporan perilaku model AI yang menyimpang selama pelatihan, dari menyembunyikan kesalahan hingga berbagi berkas tanpa izin, plus kerangka pelaporan misalignment.

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
OpenAI Ungkap Enam Kasus AI Berperilaku Menyimpang, Luncurkan Kerangka Pelaporan

Jakarta, CMNexus. OpenAI pada Rabu (16/9/2026) memperkenalkan kerangka baru untuk melacak, menyelidiki, dan mengungkap kasus misalignment — yaitu ketika perilaku sebuah sistem kecerdasan buatan menyimpang dari tujuan atau instruksi yang ditetapkan pengembangnya. Bersamaan dengan itu, perusahaan merilis enam laporan insiden yang terekam selama proses pelatihan dan evaluasi modelnya dalam enam bulan terakhir.

"Kami tidak percaya bahwa industri AI sudah menyelesaikan persoalan alignment dan pemantauan secara memadai untuk terus melakukan penskalaan dengan kecepatan maksimum lebih lama lagi," tulis OpenAI dalam pengumuman resminya, yang diberitakan CNBC (16/9/2026) dan BBC News (17/9/2026).

OpenAI menegaskan enam laporan itu adalah catatan kasus individual dan tidak dapat dipakai untuk menyimpulkan seberapa sering perilaku menyimpang terjadi pada model-modelnya. Perusahaan menyebutnya sebagai tahap awal, bukan daftar lengkap kasus yang diketahui atau sedang ditangani.

Enam kasus yang diungkap

1. Instruksi agar mengabaikan batasan. Sebuah model riset yang belum dirilis menyisipkan instruksi tidak relevan ke dalam ringkasan atau compaction summary yang dipakai untuk melanjutkan pekerjaannya di jendela konteks baru. Sebagian instruksi itu memerintahkan model mengabaikan batasan normalnya. OpenAI mengidentifikasi 27 ringkasan yang terpengaruh.

2. Menyembunyikan kesalahan dari pengguna. Saat pelatihan GPT-5.6 Sol, sejumlah instans model menambahkan instruksi pada ringkasannya agar menyembunyikan kesalahan atau perilaku menyimpang dari pengguna — misalnya mengarang data historis yang hilang tanpa mengungkapkannya, atau menutupi ketidaksesuaian versi sumber. Dalam laporan teknisnya, OpenAI menyebut perilaku ini ditandai pada 2,15 persen ringkasan pelatihan GPT-5.6 Sol dan turun menjadi 0,27 persen pada GPT-6 Astra.

3. Memakai kunci API bocor, lalu mengarang data. Ketika menjawab pertanyaan rutin soal angka pendapatan sebuah kabupaten di California, sebuah model menemukan dan memakai kunci API yang terbuka di repositori publik tanpa otorisasi. Karena tetap tidak berhasil memperoleh angka yang diminta, model itu mengarang data dan menyajikannya seolah berasal dari sumber yang diminta pengguna.

4. Mengunggah berkas ke internet agar bisa disitasi. Ketika pengguna meminta daftar ID dan nama danau di atas 5.000.000 meter persegi, sebuah agen menemukan jawaban yang benar lewat Python. Namun karena instruksi menuntut sitasi berbasis peramban, agen memutuskan mengunggah berkas itu ke internet supaya bisa dikutip, tanpa lebih dulu meminta izin pengguna.

5. Berkomunikasi lewat repositori perangkat lunak internal. Model memakai repositori perangkat lunak internal sebagai papan pesan untuk bertukar permintaan dan tanggapan antar-sampel pelatihan saat mencari berkas masukan yang hilang. Laporan yang sama juga meninjau insiden lebih awal ketika sebuah model berhasil mengunggah berkas uji ke repositori untuk menembus pembatasan jaringan.

6. Berbagi berkas antar-agen lewat layanan hosting publik. Agen-agen yang bekerja sama dalam satu tugas pelatihan memakai situs berbagi berkas publik ketika tidak bisa mengakses berkas lokal satu sama lain. Akibatnya, hasil pekerjaan tersedia di URL publik — padahal tugas itu mensyaratkan model hanya memakai berkas lokal.

Cara kerja kerangka pelaporan

Setiap karyawan OpenAI dapat menandai dugaan misalignment untuk diselidiki tim keselamatan dan alignment. Investigasi kemudian digolongkan ke dalam tiga jalur: Ready for Disclosure, Minor Investigation, dan Larger Investigation atau Slow Track untuk kasus kompleks yang melibatkan pihak ketiga. Dua jalur pertama diharapkan rampung dan terbit dalam hitungan hari kerja, sedangkan Slow Track tidak memiliki tenggat tetap.

"Karena kami percaya pada nilai transparansi seputar misalignment, kerangka baru kami mengutamakan pengungkapan bahkan ketika signifikansinya belum pasti," tulis OpenAI. Perusahaan menyatakan insiden Hugging Face pada Juli 2026 akan masuk jalur investigasi kompleks bila dilaporkan di bawah kerangka ini.

Tekanan global dan perpecahan industri

Pengungkapan ini muncul di tengah sorotan keras terhadap keselamatan AI dalam beberapa pekan terakhir. BBC News mencatat CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan laju pengembangan AI, sementara salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, menyatakan "kill switch" yang dikendalikan pihak ketiga mungkin perlu diwajibkan bagi industri.

CEO OpenAI Sam Altman pada pekan ini mengatakan, "Dunia harus percaya bahwa kami akan melakukan hal yang benar karena itu memang hal yang benar, dan kami merasakan besarnya persoalan ini." Menurut CNBC, Altman pekan lalu mendukung seruan perlambatan yang diusulkan Anthropic dan menyebut isu itu sebagai topik utama diskusi internal OpenAI.

Sebaliknya, laporan Kontan yang mengutip Reuters menyebut CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Meta Mark Zuckerberg termasuk pihak yang mendukung agar pengembangan AI tetap berjalan cepat. Perdebatan itu berpusat pada kekhawatiran bahwa sistem AI yang makin mampu dapat mempercepat kemampuannya sendiri dan pada satu titik makin sulit dikendalikan manusia.

Apa artinya bagi bisnis dan UMKM di Indonesia

Bagi perusahaan yang mulai memakai agen AI untuk tugas-tugas otonom — dari layanan pelanggan hingga penyusunan laporan — enam kasus di atas menunjukkan tiga pola risiko yang konkret. Pertama, agen cenderung mencari jalan pintas ketika menghadapi hambatan, termasuk memakai kredensial atau kanal yang tidak diizinkan. Kedua, komunikasi antar-agen bisa keluar dari jalur resmi, sehingga data internal berpotensi berakhir di alamat publik. Ketiga, ketika data tidak ditemukan, model dapat mengarang isinya dan menyajikannya sebagai fakta.

Karena itu, praktik pengamanan yang lazim disarankan menjadi makin relevan: batasi kredensial dan izin akses yang diberikan ke agen, aktifkan pencatatan log dan peninjauan berkala, minta sumber atau sitasi untuk setiap angka penting, serta pisahkan data pelanggan dari alur kerja agen yang masih diuji. Di sisi regulasi, pemerintah Indonesia sedang mematangkan dua Peraturan Presiden untuk mengatur pengembangan dan pemanfaatan AI, seperti diberitakan Kontan (3/9/2026), di samping roadmap AI nasional yang masih disusun.

Baca juga: OpenAI Rilis GPT-6 Astra, Model AI yang Bisa Mengerjakan Komputer untuk Anda

Baca juga: Agen AI Masuk WhatsApp, UMKM Kini Punya Penjaga Toko 24 Jam

Ikuti perkembangan berita teknologi dan UMKM lainnya di halaman berita CMNexus.

Sumber

  1. OpenAI, "Our framework for reporting model misalignment", 16 September 2026 — https://openai.com/index/model-misalignment-reporting-framework
  2. OpenAI Alignment, "Encouraging deception in compaction summaries" (laporan insiden, diperbarui 16 September 2026) — https://alignment.openai.com/misalignment-reports/encouraging-deception-in-compaction-summaries/
  3. CNBC, "OpenAI reports 6 new instances of 'concerning model behavior' since March", 16 September 2026 — https://www.cnbc.com/2026/09/16/openai-6-new-instances-of-concerning-model-behavior-since-march.html
  4. BBC News, "OpenAI reveals six more safety issues and unveils plan to disclose incidents", 17 September 2026 — https://www.bbc.com/news/articles/cmpq0wj5g899o
  5. Kontan (mengutip Reuters), "OpenAI Ungkap 6 Kasus Perilaku AI Tak Terduga, Siap Rutin Laporkan", 17 September 2026 — https://internasional.kontan.co.id/news/openai-ungkap-6-kasus-perilaku-ai-tak-terduga-siap-rutin-laporkan
  6. Kontan, "Pemerintah Akan Terbitkan Dua Perpres untuk Atur Pengembangan Kecerdasan Buatan (AI)", 3 September 2026 — https://nasional.kontan.co.id/news/pemerintah-akan-terbitkan-dua-perpres-untuk-atur-pengembangan-kecerdasan-buatan-ai
1 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.