AI & Otomasi 26 September 2026 167 pembaca

Tren 2026: AI Agent Masuk Alur Produksi, Baru 38 Persen Codebase Dinilai Siap

Peralihan dari asisten AI yang sekadar membantu tugas perorangan menuju AI agent yang menjalankan rangkaian pekerjaan secara lebih mandiri kini berlangsung cepat di kalangan pengembang perangkat lunak Asia Tenggara dan

T
Tim Editorial CMNexusPT. Cipta Mitrausaha Nusantara
Tren 2026: AI Agent Masuk Alur Produksi, Baru 38 Persen Codebase Dinilai Siap

Jakarta, CMNexus — Peralihan dari asisten AI yang sekadar membantu tugas perorangan menuju AI agent yang menjalankan rangkaian pekerjaan secara lebih mandiri kini berlangsung cepat di kalangan pengembang perangkat lunak Asia Tenggara dan India. Namun laju adopsi itu belum diikuti kesiapan teknis maupun kesiapan biaya di sisi organisasi.

Temuan tersebut berasal dari Agoda AI Developer Report 2026 yang dirilis 24 September 2026 di Singapura. Studi yang diprakarsai platform perjalanan digital Agoda bersama Macramé Consulting ini menghimpun masukan dari komunitas pengembang di tujuh pasar: Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India. Laporan lengkapnya dapat diunduh gratis melalui apacdeveloperreport.com.

Adopsi agent melaju, produktivitas ikut naik

Lebih dari separuh responden (53 persen) menyatakan AI agent sudah dipakai pada sebagian alur kerja produksi atau bahkan secara luas di organisasi mereka. Angka itu menempatkan agentic AI bukan lagi sebagai eksperimen, melainkan bagian dari proses kerja harian.

Manfaat produktivitasnya juga terlihat lebih nyata dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 55 persen responden mengaku menghemat sedikitnya tujuh jam kerja setiap minggu, naik tajam dari 18 persen pada 2025. Kualitas keluaran pun dinilai membaik: 62 persen mengatakan kode buatan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar.

Penggunaannya melebar dari sekadar menulis kode ke peninjauan kode, perancangan arsitektur, debugging, proses belajar, hingga dokumentasi. Meski begitu, penilaian manusia belum ditinggalkan: 86 persen responden selalu atau hampir selalu meninjau dan memvalidasi hasil AI.

Kesiapan codebase dan biaya jadi penghambat

Yang menarik, kecepatan adopsi agent tidak sebanding dengan kesiapan fondasi teknisnya. Hanya 38 persen responden menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk agent yang bekerja sepenuhnya otonom.

Biaya kini menjadi penghambat utama perluasan penggunaan AI. Sebanyak 28 persen responden menyebut biaya sebagai kendala terbesar, di atas kompleksitas integrasi (24 persen) dan kurangnya tata kelola (19 persen). Laporan itu mencatat biaya AI tidak berhenti pada pemanggilan model, tetapi mencakup pekerjaan merancang, mengintegrasikan, meninjau, dan memvalidasi agent.

Konsekuensinya, empat dari lima responden (sekitar 80 persen) mengaku bekerja di bawah semacam pembatasan penggunaan AI, entah berupa kuota token, batas pemakaian, maupun pembatasan anggaran. Ini penting bagi pemilik usaha yang ingin menghitung biaya otomasi: ongkos terbesarnya bukan langganan model, melainkan jam kerja untuk membuat agent benar-benar dapat dipercaya di lingkungan produksi.

Otonomi naik, akuntabilitas tetap di manusia

Responden terbuka memberi otonomi lebih besar kepada agent untuk pekerjaan berisiko rendah dan dapat dibatalkan, misalnya dokumentasi. Namun semakin dekat ke tahap produksi, tuntutan pengawasan meningkat: 79 persen mewajibkan persetujuan manusia sebelum hasil kerja AI diterapkan ke produksi.

Peran pengembang pun bergeser. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta orkestrasi agent disebut sebagai keterampilan masa depan. Pergeseran ini tidak merata: 49 persen pengembang junior merasa kurang aman terhadap prospek karier mereka, dibandingkan 17 persen responden pada level CTO dan VP Engineering.

"Kecerdasan artifisial membentuk ulang cara pengembang di Asia Tenggara dan India membangun, belajar, dan berkolaborasi. Yang awalnya mempercepat tugas-tugas individual kini menjadi perubahan yang lebih luas dalam cara perangkat lunak dibangun," ujar Chief Technology Officer Agoda, Idan Zalzberg, dalam keterangan resmi.

"Namun kemampuan yang lebih besar membawa tanggung jawab baru. Biaya sesungguhnya bukan sekadar pemanggilan model, melainkan pekerjaan yang diperlukan agar AI dapat dipercaya di produksi. Organisasi yang akan unggul di fase berikutnya adalah yang mengelola biaya dengan cermat, membangun pengaman yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada hal yang paling penting," tambahnya.

Sisi Indonesia: keyakinan tinggi, penghematan waktu masih rendah

Untuk konteks Indonesia, pemberitaan Tek.id pada 25 September 2026 atas laporan yang sama menyebut 82,7 persen pengembang Indonesia melaporkan peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Akan tetapi hanya 46,9 persen di antaranya mengaku menghemat sedikitnya tujuh jam kerja per minggu — angka terendah di antara tujuh pasar yang disurvei.

Pemberitaan itu juga mencatat 70 persen pengembang di Indonesia memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan perangkat lunak dalam tiga tahun mendatang, sementara 27,7 persen menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent.

Kesenjangan antara keyakinan dan hasil nyata itu sejalan dengan catatan sejumlah pengamat: memakai AI belum otomatis berarti lebih cepat, terutama bila alur kerja, data, dan standar peninjauan belum dirapikan. Pembahasan serupa pernah kami angkat di artikel Agen AI Masuk WhatsApp, UMKM Kini Punya "Penjaga Toko" 24 Jam.

Apa artinya bagi pemilik usaha kecil

Bagi UMKM dan usaha kecil yang mulai memakai alat AI atau menyewa pengembang, empat hal ini bisa jadi pegangan praktis:

  1. Mulai dari satu proses, bukan seluruh operasi. Pilih pekerjaan berulang dengan aturan jelas — menjawab pertanyaan pelanggan yang sama, merekap pesanan, atau menyusun deskripsi produk.
  2. Rapikan data lebih dulu. Agent hanya sebaik data yang dibacanya; stok, harga, dan daftar pelanggan yang tersebar di banyak buku catatan membuat hasilnya tidak konsisten.
  3. Batasi kewenangan dan anggaran. Tetapkan pekerjaan apa yang boleh dijalankan otomatis, apa yang wajib disetujui pemilik, serta kuota pemakaian agar biaya tidak membengkak.
  4. Sisakan titik pemeriksaan manusia. Terutama untuk transaksi, pembayaran, dan hal yang menyangkut data pelanggan.

Temuan riset ini berasal dari satu studi yang diprakarsai perusahaan teknologi, sehingga angkanya menggambarkan persepsi responden pada tujuh pasar, bukan sensus seluruh pelaku usaha. Yang bisa disimpulkan dengan aman: adopsi agent sudah bergerak, dan pekerjaan rumah terbesar justru ada di kesiapan fondasi serta kendali biaya.

Ikuti perkembangan teknologi usaha dan UMKM lainnya di kanal berita CMNexus.

---

Sumber

  1. PR Newswire — Agoda Releases AI Developer Report 2026: Agentic AI Adoption Outpaces Enterprise Readiness Across Southeast Asia and India (24 Sep 2026) — https://www.prnewswire.com/apac/news-releases/agoda-releases-ai-developer-report-2026-agentic-ai-adoption-outpaces-enterprise-readiness-across-southeast-asia-and-india-302888472.html
  2. Kyodo News (English) — Agoda Releases AI Developer Report 2026 (24 Sep 2026) — https://english.kyodonews.net/articles/-/86213
  3. Yonhap News Agency — [PRNewswire] Agoda AI Developer Report 2026: Agentic AI Expands (24 Sep 2026) — https://en.yna.co.kr/view/RPR20260924002000353
  4. Tek.id — AI Makin Dipercaya Developer Indonesia, tapi Belum Banyak Menghemat Waktu (25 Sep 2026) — https://www.tek.id/insight/ai-makin-dipercaya-developer-indonesia-b2qbt9uhu
  5. ItWorks.id — Agoda Rilis AI Developer Report 2026, Ini Hasilnya (25 Sep 2026) — https://www.itworks.id/83190/agoda-rilis-ai-developer-report-2026-ini-hasilnya.html
  6. Laporan lengkap: https://www.apacdeveloperreport.com/
0 suka
BagikanfXin
SOLUSI DIGITAL TERPADU

Siap Menerapkan Solusi Teknologi untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan sistem POS, AI Automation, atau ERP kustom dengan tim spesialis PT. Cipta Mitrausaha Nusantara.